Quote of the Day
“Berikan saya sebuah pengungkit dan sebuah tempat berdiri, dan saya akan mengerakkan dunia.”
connecting indonesian amazing students
“Berikan saya sebuah pengungkit dan sebuah tempat berdiri, dan saya akan mengerakkan dunia.”
Andeke Dini Fahransa tak menyangka kalau hobinya membaca dan menulis bisa mengantarkannya menjadi pemenang dua kompetisi menulis esai pada tahun 2003. Pada kompetisi pertama yang digelar Depdiknas, ia menulis tentang perkembangan teknologi infomasi dan dampaknya terhadap generasi muda Indonesia. Sementara, pada kompetisi kedua, yang digelar FE-UI dengan tema: “peluang dan tantangan Indonesia menghadapi AFTA 2010. Anda bisa membayangkan betapa visionernya, Mahasiswi semester 7, Psikologi UI ini.Selain prestasi diatas, Deke, demikian dia biasa disapa, juga dinobatkan sebagai Srikandi Pajak 2004. Tugasnya cukup menantang yakni mensosialisaikan kesadaran membayar pajak. Beragam prestasi gadis kelahiran Jakarta, 3 Mei 1986 ini telah mengharumkan almamaternya, karena itu UI pun mengganjarnya dengan penghargaan Mahasiswa berprestasi Non-Akademik UI 2005. Penghargaan bagi mahasiswa yang memiliki prestasi diluar kampus.Kuliah dengan seabreg kegiatan ekstra kampus sempat membuat Deke stres. Cukup bingung ketika harus memilih antara kuliah dan konsekuensi dari prestasinya. Apalagi ia ingin lulus dengan Cum Laude. “Aku ingin fokus pada kuliah. Tapi setelah aku jalani berbagai kegiatan, aku jadi lebih pintar mengatur waktu. Lagipula aku masih muda. Aku ingin mengembangkan diri”, ungkap penggemar band Hanson ini. Pengagum Cinderella Man ini punya cita-cita terpendam. Ia ingin mendirikan lembaga pendidikan anak-anak. “berbekal psikologi pendidikan, aku bisa memotivasi orang lain untuk mencapai cita-cita. Seperti bunga, pada musimnya dia akan mekar. Walaupun telat, tetapi hasilnya akan tetap indah,” tuturnya penuh arti. (disarikan dari: CAMPUS, Edisi 04, 07-20 Februari 2007)
Well, congratulation buat tim Srikandi. Impian maem Bakpia disamping Eiffel akan terwujud. hehehe... Btw, pengalaman 'imajineo' ketika bertemu dengan tim Srikandi akhir januari lalu di MM-UGM, begitu berkesan. Waktu itu Dian & Ayu lagi konsultasi dengan alumni trust danone 2006, tim palappa (MM-UGM). Waktu trial presentasi, imajineo udah tekagum-kagum dengan rencana bisnis versi Srikandi. Kekaguman itu ternyata memang beralasan, ini terbukti dengan berhasilnya tim ini mendapatkan tiket untuk "bertarung ide" di Paris pada 29 Maret 2007. Semoga bisa mengharumkan nama UGM, Jogja, dan tentunya Indonesia di kancah internasional.Ini dia nih pasukan Srikandi:
Ikatan Keluarga Mahasiswa Manajemen (IKAMMA) FE UGM meneyelenggarakan National Student Contest (NSC). Kompetisi mahasiswa dibidang marketing communication strategy. Babak penyisihan telah digelar dan inilah 5 tim finalis siap bertarung pada level yang lebih seru:
Eco-Minds Program merupakan program bagi kaum muda dengan ide - ide kreatif yang memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan. Eco-Minds Forum 2007 ini akan diselenggarakan di Thailand pada tanggal 31 Mei s.d. 3 Juni 2007. Persyaratan yang harus dipenuhi:
"this game has got to be about more than winning. you ‘re apart of something here…along the way, i want to cherish it, because when it’s gone, it’s gone forever. on any given sunday, you’re gonna win or you’re gonna lose". "the point is: can you win or lose like a man?"
Selamat ya kepada 6 tim yang terpilih menjadi finalis trust by Danone (Indonesia)
Anda pernah mengalami peristiwa yang memalukan? Saking memalukannya, Anda rasanya pengen menghilang atau ditelan bumi dalam sekejap. Sesuatu yang bikin tengsin setengah mampus. Itulah ide dari kampanye "Wanna Get Away" dari Southwest Airlines.Untuk bikin heboh kampanye ini, Southwest bekerjasama dengan You Tube, situs video streaming, mengadakan kontes bagi siapa saja yang dapat mengirimkan video berdurasi 20 detik tentang kejadian paling memalukan.
Semakin memalukan, semakin besar peluang untuk menang. Pemenang dari lomba ini akan di memenanagkan tiket dan akomodasi empat malam untuk berlibur kemana pun, tentunya dengan Soutwest Airlines. Asyiknya lagi. video rekaman pemenang akan menjadi bagian dari kampanye "Wanna Get Away".
>> Peristiwa memalukan-pun bisa jadi ide segar untuk sebuah kampanye!
Jangan langsung ngeluh kalau diberi tugas oleh dosen. Kalau dikerjakan dengan optimal , nilai A boleh jadi sudah ditangan. Malah tugas itu bisa juga memperoleh penghargaan dari kompetisi! Masa sih? Tanya saja sama Dessy Darmayanti, mahasiswa Fikom Unisba 2004, yang mendapat penghargaan film dokumenter Festival Film Pendek Konfiden 2006.Awalnya, Dessy dapat tugas untuk membuat film bertema kebudayaan dari salah satu mata kuliah. Sempat bingung memilih topik, akhirnya ia memutuskan mengangkat kebiasaan anak muda yang suka mabuk di Bandung.“Lewat film ini, tidak bermaksud nge-judge baik atau buruk, cuma ingin menyoroti kebiasaan dari anak-anak muda,” ucap Dessy sang sutradara, yang aslinya mengaku tidak suka “minum” pada kampus. Selesai urusan tugas kuliah, seorang menyarankan Dessy untuk mengirimkan karyanya ke festival film pendek cukup ternama di tanah air itu.“Ah, iseng aja. Waktu itu mikirnya, paling langsung gugur,” katanya. Film berdurasi 10 menit dengan judul “Free as a Brid” ini, memilih Qbonk sebagai pemeran utama, yang tak lain teman pacarnya Dessy. Film ini mengupas sosok Qbonk, dari kebiasaan sampai filosofinya soal mabuk. Gayanya tidak biasa, alias kocak banget! Saat pemutaran film ini, ratusan penonton yang hadir di TIM, Jakarta, kebanyakan spontan terbahak-bahak.Hasilnya? Setelah tembus 10 besar dari 200-an karya yang masuk. Film ini menggondol penghargaan khusus dari dewan juri sekaligus favorit penonton. Menurut dewan juri, tema film ini unik, orisinal, dan berhasil memperlihatkan subjek secara kuat meski dalam durasi pendek. Wow, ini tentu prestasi bagi sebuah karya debut! Nggak nyangka banget, kata Dessy bungah.
Sebagai pemenang, film ini juga ikut diputar pada Jakarta International Film Festival (JIFFest) beberapa waktu lalu. Dessy mengaku jadi tertarik lebih jauh tentang dunia film. Kalau perlu, tugas-tugas kuliah mulai banyak pakai medium film. “kalau makalah kayaknya teori banget. Dengan film, kita jadi lebih banyak terjun ke lapangan,” ujarnya.
by Dewi Irma, Kampus_pr@yahoo.comSumber: KampUs, Pikiran Rakyat, 4 Januari 2007